EBS 105.9 FM
play_arrow
RKT Episode: Aturan Absurd Si Dosen 'Boomer', Revisi Cuma Perkara Font? (Curhatan Melia)
SURABAYA – Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Ciputra Surabaya kembali menghadirkan ajang apresiasi sineas muda melalui pagelaran Ciputra Film Festival (CFF) yang ke-5. Rangkaian festival ini diselenggarakan pada 2-6 Juni 2026 dan mengambil lokasi di Universitas Ciputra Surabaya, V-Walk Atrium, serta XXI Ciputra World Surabaya. CFF tidak hanya menjadi wadah apresiasi, tetapi juga bukti nyata dari penerapan kurikulum Universitas Ciputra yang berbasis project dengan prinsip “real client, real project“. Hal ini juga sejalan dengan inovasi pendidikan mereka yang baru saja mengembangkan subjek Global Communication, setelah sebelumnya sukses dengan fokus Digital Communication dan Cinematic.
Tahun ini, 5th CFF mengusung tema besar “MOSAIC”. Tema ini lahir sebagai respons terhadap fenomena sosial budaya Fear of Missing Out (FOMO) yang lekat dengan kehidupan generasi muda, di mana banyak individu mulai kehilangan identitas demi mengikuti standar sosial populer. Melalui “MOSAIC”, CFF ingin mengajak masyarakat menyadari bahwa setiap individu memiliki cerita, ide, warna, dan perspektif yang berbeda-beda, layaknya potongan mosaik yang jika disatukan akan membentuk sebuah kesatuan yang utuh dan bermakna.
Antusiasme dan dampak perfilman terhadap masyarakat terbukti sangat masif. Festival tahun ini sukses menerima lebih dari 280 karya film dari 35 negara, membuktikan bahwa CFF telah berkembang pesat sebagai ruang kolaborasi berskala internasional.

Faktor pembeda dan inovasi utama pada CFF tahun ini adalah hadirnya CFF Project Hunt. Program ini merupakan ajang pitching gagasan film yang ditujukan khusus bagi pelajar tingkat SMA/SMK sederajat. Tidak tanggung-tanggung, program ini menyiapkan modal bagi para highschoolers melalui beasiswa Universitas Ciputra senilai total Rp 1 Miliar.
Lebih dari sekadar kompetisi, inovasi ini digagas untuk menjembatani kesenjangan antara komunitas pembuat film dengan para pemodal.
“Kami merasa ada gap yang besar antara tingginya animo pembuat film dengan ketersediaan dana produksi. Sementara itu, antusiasme masyarakat terhadap penonton film Indonesia saat ini sedang sangat tinggi. Melalui CFF Project Hunt, kita mencoba membuat jembatan yang mempertemukan komunitas dari Jawa Timur dan sekitarnya dengan para pemodal, siapa tahu mereka bisa berjodoh di CFF ini,” jelas Dr. Cosmas Gatot Haryono, S.Sos., M. Si., yang akrab disapa Pak Cosmas, selaku Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media, Universitas Ciputra Surabaya.
Terkait peluang karya dari CFF menembus pasar komersial, Pak Cosmas menegaskan bahwa hal tersebut sangat mungkin terjadi.
“Sangat mungkin karya dari sini naik ke layar lebar. Dua tahun lalu berturut-turut, selalu ada film yang kemudian didanai oleh rumah produksi untuk di-repackage dan ditayangkan ulang. Bahkan ada satu film yang berhasil dibawa ke festival di Prancis. Peluang-peluang itu sering terjadi di kami,” tambahnya.

Selama lima hari penyelenggaraan, 5th CFF menyuguhkan berbagai program gratis yang terbuka untuk masyarakat umum, mulai dari penayangan film, talkshow, hingga workshop. Berikut adalah sorotan program harian di 5th CFF:
Day 1 (Selasa, 2 Juni 2026): Menghadirkan Expert Session bersama produser dan CEO Paragon Pictures, Robert Ronny, di Dian Auditorium Universitas Ciputra, ditutup dengan pemutaran Synergy Pieces.
Day 2 (Rabu, 3 Juni 2026): Digelar di V-Walk Atrium dan XXI Ciputra World, menghadirkan content creator Chandra Liow dalam sesi “Mosaic of Becoming : Finding Passion in Filmmaking”, serta penayangan film “Perfectly Asymmetric” dan “Collection of Sharp Edges”.
Day 3 (Kamis, 4 Juni 2026): Menghadirkan Open Air Cinema, Workshop Session “From Snap to Story” yang berkolaborasi dengan Plaza Kamera, serta Expert Session bersama aktris Adinia Wirasti.
Day 4 (Jumat, 5 Juni 2026): Publik dapat mengikuti Expert Session bersama sutradara ternama Riri Riza bertajuk “Pieces of Mosaic”, dilanjutkan program CineKids, kompetisi dokumenter, dan Highschool Competition.
Day 5 (Sabtu, 6 Juni 2026): Merupakan puncak acara (Awarding Night) dan sesi penjurian Project Hunt yang turut dihadiri oleh sutradara pemenang penghargaan, Wregas Bhanuteja.
Dalam festival ini, pergeseran industri film akibat hadirnya platform OTT (Over-The-Top) juga menjadi sorotan edukatif. Kehadiran OTT tidak dipandang sebagai ancaman bagi eksistensi bioskop komersial, melainkan menjadi perpanjangan napas bagi industri sineas, di mana platform digital tersebut justru membeli dan menyelamatkan karya-karya yang mungkin memiliki umur tayang pendek di layar lebar. Hal ini membuka keran distribusi baru bagi film-film komunitas dan independen.
Panitia mengundang seluruh masyarakat dan pecinta seni di Surabaya untuk hadir meramaikan 5th CFF. Mari datang dan saksikan langsung karya-karya orisinal dan film pendek berkualitas tinggi yang sulit Anda temukan di bioskop komersial biasa!
Written by: admin
3:00 pm - 4:00 pm
4:00 pm - 8:00 pm
Copyright EBS 105.9 FM 2026
Post comments (0)